Sistem Daring Sulit, Guru di Humbahas Susuri Jalan Setapak Jumpai Para Murid
08 Agustus 2020 - 21:57:21 WIB | Dibaca: 3142x
Humbahas (SIOGE) – Guru pahlawan tanpa tanda jasa merupakan salah satu ungkapan terima kasih terhadap jasa-jasanya yang telah membimbing dan memberikan perhatian serta kasih dan sayang kepada murid di sekolah.
Derita Togatorop guru SD Negeri 177663 Marbun Dolok di Dusun Batu Mardinding, Desa Marbun Tonga, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara (Sumut) tak mengenal lelah melangkahkan kakinya menyusuri jalan rusak, mendaki, berkelok hingga jalan setapak untuk sampai ke rumah para muridnya untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
Derita mengaku tak punya kendaraan roda dua untuk dipakai, sehingga dengan pengabdiannya sebagai seorang guru semangatnya tak pernah surut agar anak didiknya mendapat bekal ilmu di masa depan. Proses dengan mendatangi rumah muridnya disebabkan pandemi Corona yang belum diketahui kapan berakhir.
Belum ada rekomendasi dari pemerintah diterima pihak sekolah untuk memberlakukan metode belajar tatap muka, sehingga para guru rekan Derita Togatorop juga melakukan hal yang sama.
Derita dengan setulus hati mendatangi satu per satu rumah muridnya. Proses pembelajaran untuk setiap murid dilaksanakan satu jam lebih kemudian berpindah ke rumah murid lainnya. “Sesuai anjuran dari pemerintah, kami melaksanakan pembelajaran ke rumah siswa. Kami mengunjungi rumah siswa satu persatu,” jelas Derita, kemarin.
“Ya kami jalan kaki, karna kami di sini rata-rata tenaga pengajar, guru semuanya, kami jalan kaki, dan karna kondisi jalan tanjakan ini bagi kami perempuan sangat sulit. Paling sulit kami pembelajaran dalam situasi covid saat ini bagi kami guru adalah tempatnya jauh. Siswa-siswa kita jauh pak,” tambah Derita.
Karena jauhnya rumah-rumah siswa, Derita mengaku dalam satu hari hanya sekitar lima orang siswa yang mampu dikunjungi. “Yang bisa kami kerjakan ke rumah siswa ada sekitar lima orang,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri 177663 Marbun Dolok, Tumpak Sihombing, mengatakan, proses pembelajaran yang dilakukan dengan sistim daring masih sulit. “Karena kami tidak mempunyai jaringan tertentu. Dan rumah siswa kita juga jauh dari sekolah. Ada yang harus melalui jalan setapak. Makanya demi kepentingan anak-anak didik kita, kita lakukan anak ini menjadi bisa, atau bisa mengikuti. Karena dulunya belajar di dalam kelas. Jadi bagaimana cara kita menjadikan anak didik kita tidak menjadi jenuh,” terang Tumpak. (snt/s)






















