Gus Ambrin : 28 Sekolah di Batangkuis Siap Laksanakan Belajar Tatap Muka dengan Prokes
28 Desember 2020 - 21:00:33 WIB | Dibaca: 3851x
Deliserdang (Sioge) - Sebanyak 28 sekolah di Kecamatan Batang Kuis nyatakan sudah siap mengikuti sistem belajar tatap muka dan siap mematuhi Protokol Kesehatan (Prokes) yang sudah ditentukan dari pusat.
Hal ini disampaikan Koordinator Pendidikan Wilayah (Korwilcam) Kecamatan Batang Kuis Gus Ambrin dalam jumpa pers di SDN 101668 Batangkuis Deliserdang, Senin (28/12/2020) siang.
Ambrin juga mengatakan, untuk 28 sekolah yang mana 20 sekolah negeri dan 8 sekolah swasta sudah disampaikan dalam rapat, bahwa semua sekolah harus betul-betul dan harus siap menghadapi belajar tatap muka sesuai Prokes seperti pengadaan thermogun, tempat cuci tangan, masker yang dibutuhkan oleh murid dan guru dalam proses belajar mengajar.
"Dengan jadinya rencana belajar tatap muka nanti semua sekolah harus sudah siap, jangan sampai tidak siap karena hal ini akan dipertanyakan oleh wali murid terkait ketidak siapan sekolah menghadapi belajar tatap muka. Masalah teknisnya, ini harus digodok lagi dan dirapatkan kembali oleh sekolah yang ada di Kabupaten Deliserdang khususnya Kecamatan Batangkuis," ucapnya.
Ambrin menjelaskan, mengenai Desa Satu (Deli Serdang Sekolah Bermutu) konsepnya sederhana, dimana sekolah itu disenangi oleh murid dan dirindukan oleh guru-guru. Pada saat mengajar harus dengan hati dan tidak ada kekerasan yang dilakukan dalam proses pembelajaran serta tidak memaksakan konsep.
Menurut Ambrin, tidak ada sekolah di Kecamatan ini yang paling hebat, tetapi semuanya hebat, tidak ada sekolah yang paling baik, tetapi semua sekolah itu baik.
Sementara arahan dari Bupati yang selalu memberi perhatian kepada pendidikan di Kabupaten Deliserdang khususnya Kecamatan Batangkuis, diharapkan agar semua sekolah ada tempat ibadah, baik untuk murid yang muslim maupun murid yang beragama Nasrani, agar dapat belajar dan meningkatkan spiritualnya. Karena Bupati Deli Serdang bukan hanya mengharapkan murid yang cerdas tetapi juga religius.
"Semangat Desa Satu ini tidak boleh surut, karena target kita sudah hampir 70 persen, jadi yang 30 persen ini harus ditingkatkan. Kerena itu tidak boleh ada lagi sekolah- sekolah yang kumuh dan tidak layak untuk dilakukan proses pembelajaran karena sekolah adalah pusat budaya,” pungkas Ambrin. (Feri)






















