Cucu “Founding Father” Akan Launching Buku dan Bangun “Geriten” Guru Patimpus Sembiring Pela
18 Agustus 2022 - 14:38:28 WIB | Dibaca: 3616x
Medan (Sioge) - Survei yang dilakukan pada 2019, ternyata indeks masyaraat yang mengetahui Guru Patimpus Sembiring Pelawi sang “Founding Father” Kota Medan hanya 23 persen.
“SCkup menyedihkan, warga kota yang sudah SMP sampai yang sudah tua hanya 23 persen saja yang tahu siapa pendiri Kota Medan dan mengenal perjuangannya,” ujar cucu sang “Founding Father” pendiri Kota Medan, Sidarta S Pelawi MBA, Rabu (17/8/2022) sore di Le Polonia Hotel saat mengukuhkan panitia Launching Buku dan Pembangunan Makam Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang dihadiri salah seorang inisiator HN Serta Ginting, 4 garis keturunan Guru Patimpus Sembiring Pelawi dan puluhan panitia.
Dibentuknya panitia ini dengan harapan minimal 70 persen warga Medan bisa mengenal siapa pendiri Kota Medan dan bagaimana rekam jejaknya dahulu. Disebutkannya, Guru Patimpus Pelawi yang lahir di Desa Ajijahe Tanah Karo 1540, hingga akhir hayatnya tidak memiliki tanah warisan untuk anak cucunya. Guru Patimpus Pelawi merupakan sosok pria perkasa yang berjiwa petualang dan pengembara untuk menjalankan visi kemanusiaan yaitu mengobati orang sakit dari satu daerah ke daerah lain mulai dataran tinggi Karo sampai ke tanah Deli. Pada setiap tempat, Guru Patimpus mendirikan pemukiman yang kemudian menjadi desa.
Menurut sejarah, Guru Patimpus juga mendirikan Sepuluh Dua Kuta, mulai dari Desa Perbaji Karo hingga terakhir di Medan. Beberapa keturunannya, di antaranya anak pertama dari istri Br Sinuhaji, Bagelit Sembiring Pelawi yang mendirikan Desa Sukapiring dan keturunannya menjadi Raja Urung Datuq Sukapiring. Anak dari istri kedua yang juga Br Sinuhaji di Desa Ajijahe, Jenda Sembiring Pelawi yang menjadi Raja Ajijahe.
Dari istri ketiga Br Bangun di Desa Perbaji, Aji Sembiring Pelawi menjadi Raja di Desa Perbaji. Anaknya kedua diberi nama Raja Kita Sembiring Pelawi menjadi Raja di Desa Durin Kerajaan di Langkat. Istri keempat Br Tarigan putri Raja Pulo memberinya 2 anak laki-laki yang diberi nama Kolok (Hafiz Tua) Sembiring Pelawi dan Kecik (Hafiz Muda) Sembiring Pelawi yang kemudian menjadi Raja Urung Sepuluh Dua Kuta.
Pada tahun 1590, Guru Patimpus dan istrinya Br Tarigan menemukan Sungai Babura yang saat itu belum ada namanya. Di sanalah didirikannya gubuk untuk tinggal dan mengobati orang-orang yang sakit. Karena banyaknya sembuh, orang menamakan rumah dan daerah rumahnya Desa Madaan (Bahasa Karo-Sembuh). Akhirnya semua orang mengatakan daerah itu dinamakan desa Medan.
Saat akan meninggal Guru Patimpus meminta kepada istrinya Br Tarigan agar dimakamkan di Desa Lama Hamparan Perak. Namun, kalau dilihat lokasi makamnya sudah tidak layak lagi sebagai ukuran makam seorang founding father. Makanya, dirinya bersama 4 garis keturunan Guru Patimpus Sembiring Pelawi, berencana membangun kembali makamnya sebagai geriten (tugu-red).
Rencananya, launching nanti akan akan dilaksanakan di hotel dengan mengundang 1000 tamu dan mencetak 10 ribu buku Guru Patimpus untuk dibagikan kepada masyarakat dan akan diusulkan kepada Pemko Medan agar dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Di akhir sambutannya, Sidarta menyebutkan selama 412 tahun dimakamkan di sana, seharusnya diberi penghargaan dengan membangun kembali makamnya.
Sementara HN Serta Ginting dalam sambutannya mengatakan menyakini bahwa orang Karo pasti cinta Guru Patimpus dengan sejarahnya. Makanya dengan adanya penyusunan buku itu, diharapkan bisa masuk ke kurikulum pendidikan agar semua warga Medan tahu siapa pendiri kotanya.
Hal pertama yang dilakukan untuk mengenang sang founding father, warga Medan membuat kegiatan merdang merdem di halaman Istana Maimun. Untuk lebih menghidupkan lokasi makam, hendaknya jalan dibagusi di Hamparan Perak dan dibuat taman tempat orang bersantai dan foto-foto.
Sementara itu Ketua Panitia dr John Peter Roy Kaban dalam sambutannya mengatakan kalau bisa 100 persen warga Medan mengenal Guru Patimpus. Niat tulus dari panitia, akan diprogramkan pencetakan 10 ribu eks dengan biaya Rp.650 juta dan pembangunan makam berbiaya Rp. 440 juta. Bantuan pengumpulan dana diharapkan berupa pemesanan minimal 12 Exp buku atau ikut langsung menyumbang dana pembangunan geriten kalau bisa via bank.
Susunan panitia yaitu, Dewan Pengarah Datoq Adil Freddy Haberham Sembiring Pelawi, Sidarta Sembiring Pelawi MBA, Erwan Sembiring Pelawi MBA, Kol (Purn) Dalin Sembiring Pelawi, Mail Sembiring Pelawi dan Datoq Yokaika Maulana.
Ketua Panitia dr John Peter Roy Kaban, Wakilnya Pengadilen S Pelawi SH MH, Ibrahim Umar (Jack India) dan Melas Daulay SPdI MPd. Sekretaris Abdi Nur Ginting SE MPd, Wakilnya Irsyad Kamil Sipahutar SE, Runtung Pelawi dan Rebecca Ketaren. Bendahara Mariamin S Pelawi dan Wakilnya Syafrida Br Pelawi. (S1)



.jpg)








