Belajar 5 Hari Seminggu, Bisa Meningkatkan Eskul Tapi Mengurangi Pendapatan UMKM dan Supir Angkot
06 Juni 2025 - 13:32:54 WIB | Dibaca: 2317x
Medan (Sioge) - Anggota Komisi 2 DPRD Medan Dr Lily, MBA. MH mengatakan, penetapan 5 hari belajar dalam seminggu oleh pemerintah memberi peluang kepada anak-anak sekolah mengembangkan ekstra kurikuler (Eskul) tanpa terbeban jam belajar di sekolah. Biasanya para pelajar mengembangkan bakatnya seperti berolahraga, drum band, seni suara dan kegiatan lainnya di hari Sabtu. Karena di hari Sabtu jam belajar mengajar di sekolah dikurangi.
"Tapi dengan liburnya di hari Sabtu ditambah Minggu tanggal merah, para pelajar memiliki waktu yang banyak mengembangkan minat dan bakat di luar pelajaran sekolah," kata Lily kepada wartawan, Rabu (4/6/2025).
Kalau para pelajar kata Lily memiliki banyak kegiatan ekstra kulikuler di hari Sabtu latihan bisa dimaksimalkan. Program tidak lima hari beljar juga akan menghindarkan pelajar dari kenakalan remaja. Karena tidak ada kesempatan bermain kemana-mana dan berkumpul selain mengisi waktu untuk hal-hal berguna.
Namun kata politisi PDI-P ini, dengan berkurangnya jam hari bersekolah akan mengurangi jam mengajar guru sehingga mengurangi gaji guru juga berkurang khususnya guru-guru sekolah swasta. Karena guru-guru swasta gajinya berdasarkan jam mengajar.
"Tapi kalau guru PNS tidak terpengaruh dengan perubahan ini, karena gaji dan tunjangan sudah ditentukan pemerintah berdasarkan golongan dan pangkat. Kita tunggu saja mungkin ada kebijakan baru pemerintah untuk guru swasta yang berkurang jam mengajarnya," ungkapnya.
Tanggapan berbeda disampaikan anggota Komisi 2 lainnya Binsar Simarmata. Politisi Perindo ini mengemukakan, jika kegiatan di sekolah berkurang berpotensi menambah kenakalan remaja. Karena waktu mereka berkumpul dan bergaul semakin banyak.
"Sedangkan belajar selama seminggu aja geng motor dan tawuran sudah banyak, apalagi dikurangi jam sekolah, bisa berpotensi bertambahnya kenakalan remaja. Kalau mereka yang rajin belajar mereka pasti belajar di rumah, tapi yang suka main-main mestinya jam belajarnya ditambah untuk mempersempit waktu keluyuran," terang Binsar
Selain itu kata dia, kebijakan ini akan mempengaruhi atau mengurangi pendapatan supir angkutan umum, beca dan UMKM. Karena biasanya di hari Sabtu ada penumpang anak sekolah jadi tidak ada lagi. Padahal operasional angkot selama ini sudah tergerus kehadiran ojek dan taksi online, dengan belajar 5 hari dalam seminggu penghasilan supir angkot dan beca pasti berkurang.
"Begitu juga penghasilan UMKM seperti pejaja makanan dan minuman di sekolah, mereka pasti tidak berjualan lagi di hari Sabtu, pendapatannya pasti jadi berkurang, perputaran ekonomipun terganggu," tuturnya.












