Ratusan Peserta Ikuti Napak Tilas Karo Area dan Kunjungi Empat Monumen Perjuangan
16 Agustus 2019 - 12:15:20 WIB | Dibaca: 3022x
Karo (SIOGE) - Napak Tilas Karo Area mengunjungi 4 lokasi tempat pertempuran di wilayah Karo Area sebagai upaya merekonstruksi kembali nilai-nilai kejuangan para pejuang untuk diwariskan kepada generasi muda.
Hal itu disampaikan Ketua Panitia sekaligus Penggagas Napak Tilas Karo Area Tahun 2019, Ir Jonathan Tarigan dihadapan seratusan peserta, Rabu (14/8) di Kantor Camat Kuta Buluh Simole.
Dipaparkannya, peserta terdiri dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Medan yang dipimpin Ketuanya Mayor (Purn) Sumbat Sembiring dan Ketua Persatuan Isteri Veteran Kota Medan Ny Rahel Tarigan beserta tim, Anggota LVRI Karo, Komunitas Penulis Kota Medan (KPM), Mapancas, pelajar SMA, dan para pewaris nilai heroisme kejuangan Karo Area. Para peserta tampak bersemangat mengunjungi sejumlah monumen sebagai titik pertempuran.
Rute napak tilas pertama di situs pertempuran di Sukaramai. Di Lokasi Monumen Sukaramai ini terjadi pertempuran yang seru antara pasukan gerilya dari Sektor III Sub Teritorial (Subter) VII Komando Sumatera (Napindo Halilintar) dipimpin Mayor Selamat Ginting alias Pa Kilap dengan tentara kolonialis Belanda.
Selanjutnya rute kedua monument Halilintar di Bertah. Di monumen Sektor III Napindo Hlilintar. Kemudian Napak Tilas dilanjutkan ke Uruk Ndaholi di Bintang Meriah. Kunjungan ke situs ketiga Kuta Buluh Simole dan sekitarnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua LVRI Kota Medan Mayor (Purn) Sumbat Sembiring menjelaskan bahwa kegiatan Napak Tilas Karo Area ini dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-74 RI dengan mengunjungi monumen perjuangan yang menjadi rute-rute napak tilas. Di Kuta Buluh Simole di monumen Tugu Bambu Runcing, para peserta diterima Camat Kuta Buluh Simole Josua Sebayang dan keluarga veteran Rukun Sembiring.
“Perjuangan masa lalu menjadi warisan generasi masa sekarang. Semoga para generasi dapat mewarisi perjuangan yang tanpa pamrih dan penuh semangat. Untuk itu kita selalu harus bersyukur masih diberi kesehatan sampai saat ini,” ujarnya.
Sebelumnya, Camat Kuta Buluh Simole Josua Sebayang mengapresiasi acara Napak Tilas Karo Area yang digelar bersama LVRI Kota Medan dan Kabupaten Karo. Semoga kepedulian kepada para pejuang dari LVRI ini dapat terus berkelanjutan dan kita menjadi pewaris perjuangan mereka.
Jonathan Tarigan selaku putra gerilyawan pejuang Resimen IV Divisi 10 yang ketika itu Komandan Gerilyanya Kapten Nelang Sembiring menjelaskan bahwa Palagan Pertempuran Karo Area itu sangat strategis dan taktis, di Konfrensi Meja Bundar (KMB) 1949 Den Haag sebagai bagian dari daerah modal adalah daerah yang tidak jatuh di dalam penguasaan Belanda. Sementara itu daerah-daerah lain di Indonesia sudah dikuasai oleh Belanda.
Dengan demikian secara defakto tesis Belanda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah dikuasai sepenuhnya oleh Belanda, menjadi gugur. Keberadaan daerah modal inilah akhirnya membawa kepada pengakuan Belanda di KMB. Selanjutnya pada Januari 1950 masuklah pasukan Indonesia dari Tanah Karo Kompi Sinambung ke Medan yang dipimpin oleh Letnan Raja Sahnan yang terakhir berpangkat Letjen, ujarnya.
Ketua Komunitas KPM Tania Depari dalam kesempatan itu mengatakan akan menviralkan nilai-nilai kejuangan melalui tulisan-tulisan yang inspiratif dalam upaya mewariskan nilai-nilai heroisme kejuangan dari Karo Area untuk para generasi muda Indonesia.
Para pewaris nilai-nilai kejuangan itu antara lain, Daniel Sitepu, Benyamin Sukatendel, Ralo Sebayang, Petrus Pepeng Barus, Inganta Taigan, Lia Hambali, Rafael Ginting, Robert Beres Tarigan. (s1)






















