Terkait Ornamen Gorga di Mapolres Batubara, Kapolres Minta Maaf
05 September 2019 - 13:12:00 WIB | Dibaca: 3143x
Batubara (SIOGE) - Penyertaan ornamen etnis di dinding depan bangunan baru Mapolres Batubara yang terlihat menonjolkan corak ‘Gorga’ (relief-red) Etnis Batak, mendapat protes kelompok etnis masyarakat setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, disebutkan bahwa Ketua Pimpinan Daerah (PD) Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Batubara H Zainal Alwi SPd, sebelumnya sudah pernah melayangkan surat resminya, tertanggal 27 Agustus 2019 ditujukan kepada Kapolda Sumatera Utara.
Ada pun tujuan surat dimaksud meminta agar pembangunan gedung Mapolres Batubara lebih menonjolkan Ornamen Melayu (suku setempat). Ataupun ‘polos’ saja sebagaimana gedung maupun bangunan kantor polisi di tempat-tempat lainnya.
Menyikapi timbulnya beragam kontroversi atas permasalahan ini, Senin (2/9/2019), beberapa warga Batubara ber-etnis Batak meminta agar semua pihak kiranya mau dan tetap harus bisa menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin.
“Kita menyadari ada ‘ketersinggungan’ Etnis Melayu melihat Ornamen Batak terpasang di tiang dan dinding depan bangunan Mapolres Batu Bara yang sedang dalam pengerjaan. Namun atas sikap tersebut jangan sampai menimbulkan konflik etnis di Batubara yang selama ini sangat damai,” ujar M Arsyad Nainggolan.
Lebih lanjut ditambahkan Nainggolan, sebagai Orang Batak dirinya mengaku bangga dengan pelestarian Adat Budaya Batak seperti Gorga. Hanya saja Nainggolan coba mengingatkan, agar apa yang diperbuat, jangan sampai menimbulkan ketersinggungan etnis lain.
Secara terpisah, Sawaluddin S Pane selaku Ketua Mantab Batubara mengatakan, niat Kapolres Batubara tulus untuk melestarikan budaya leluhur. Akan tetapi perlu diingat, bahwa ‘di mana bumi dipijak di situlah hendaknya langit harus dijunjung’.
Sementara itu, mengutip pernyataan PD MABMI Batubara, H Zainal Alwi SPd mengatakan, bahwa bukannya ia tidak menghargai nilai Kebhinekaan serta tidak mengamalkan falsafah ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang merupakan perisai lambang negara. Atau sama sekali tidak mau menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan NKRI. Akan tetapi pihaknya pun sangat merasa khawatir akan timbulnya hal-hal yang tidak dinginkan di kemudian hari.
MINTA MAAF
Sementara itu, pemasangan ornamen pada bagian kantor Mapolres Batubara yang dinilai terlalu menonjolkan corak ‘gorga’, Kapolres Batubara AKBP Robinson Simatupang, SH,M.Hum meminta maaf kepada masyarakat Melayu Batubara.
Pernyataan maaf tersebut disampaikan Kapolres Batubara dalam wawancara sejumlah media usai pertemuan tertutup dengan pengurus Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kab Batubara, kemarin.
Dalam pertemuan tersebut antara Ketua PD MABMI batubara OK Zainal Alwi, S.Pd dengan Kapolres Batubara dihadiri pengurus MABMI lainnya, Wakapolres Batubara Kompol Herwansyah, SH, Kasat Intel AKP Rommy G Manik dan sejumlah tokoh muda setempat.
“Saya mohon maaf kepada masyarakat Melayu Batubara atas pemasangan ornamen ‘gorga’ dibagian kantor Mapolres yang baru dibangun. Bukan bermaksud merendahkan adat dan budaya lokal, ini hanya kurangnya kordinasi. Namun intinya pemasangan ornamen tersebut adalah bentuk kebhinekaan,” ucap Robin Simatupang.
Kapolres menjelaskan, pada kantor tersebut tidak hanya memasang ornamen ‘gorga’ akan tetapi ornamen Melayu dan Jawa juga disertakan. Bahkan ornamen Melayu justru lebih teratas. “Itu artinya adat Melayu menjadi payung adat-adat lain di Batubara. Itu wujud persatuan dan kesatuan”, jelas Kapolres.
“Tidak ada pengurangan dari ornamen ‘gorga’ yang telah terpasang tapi nanti ornamen Melayu akan kita tambahkan dibagian depan kantor, soal motif itu akan disesuaikan dengan usulan pengurus MABMI. Kalau soal pemasangan ornamen ‘gorga’ itu sudah sesuai spek,”sebutnya.
Kapolres juga berjanji akan membangun ornamen melayu batubara di setiap polsek – polsek yang ada dijajaran Polres Batubara.
“Sebelum saya meninggalkan polres batubara saya akan membangun ornamen ciri khas melayu disetiap polsek – polsek yang ada, sebagai bentuk cinta saya dengan tanah melayu batubara”, pungkas Robin. (t/S1)













.jpg)








