Balon Bupati Samosir Gelar Gerakan Kesadaran "Money Politic" kepada Mahasiswa
20 Oktober 2019 - 19:32:21 WIB | Dibaca: 3036x
Medan (SIOGE) - Bertujuan untuk meningkatkan pendidikan politik tentang penyadaran masyarakat terutama kaum muda-mudi terkait 'money politic'. Bakal Calon (Balon) Bupati Samosir Swangro Lumbanbatu, S.T, M.Si menggelar bincang - bincang bersama muda-mudi asal Samosir di Warung Kopi Parsaoran (KORAN), Sabtu (19/10/2019).
Acara tersebut mengangkat tema "Kabupaten Samosir Tanpa Money Politic?" dengan di moderatori Prihartini Simbolon dengan narasumber Korneles J Galanjinjinay selaku Ketua Umum PP GMKI MB 2018-2020.
Swangro Lumbanbatu mengatakan, politik uang sekarang ini menjadi salah satu isu yang masih sangat relevan. Sebab, politik sekarang ini tidak lagi bisa berbicara secara efektif dengan hadirnya pertarungan ide dan gagasan tetapi, lebih pragmatis dengan hadirnya kekuasaan uang diatas segalanya. Terkadang kehadiran uang juga menjadikan konflik horizontal menguat di masyarakat.
Dengan adanya kegiatan ini, tambah Swangro, mencoba melakukan pengungkapan pemahaman dan realitanya. Serta mengajak para Balon untuk tetap menyuarakan soal politik uang supaya jangan jadi buta mata buta hati.
Dalam kesempatan ini, Korneles menyatakan bahwa kata "milenial" menjadi sebuah kata yang sangat digandrungi dalam dunia perpolitikan. Suaranya diambil alih dan banyak yang menyatakan bahwa kehadirannya dalam dunia perpolitikan adalah sebuah keterwakilan dari suara milenial. Melalui hal ini juga, partai politik sebaiknya melakukan tugasnya untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Agar tidak lagi masyarakat yang disalahkan atas isu politik uang yang kian marak.
Swangro mengatakan bahwa politik uang makin marak di sumatera utara khusunya terutama di Kabupaten Samosir. Kehadiran para pemodal dengan kepentingannya membuat suara rakyat seakan mudah untuk dibeli. Maka dari itu, pendidikan seperti bincang-bincang kali ini diperlukan. "Sebagai generasi yang akan menjadi pemimpin di kemudian hari, sebuah ketidakadilan bahwa ketika kita mampu memimpin untuk rakyat. Akan tetapi, karena memerlukan uang yang banyak untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda daerah tidak bisa mewujudkan mimpinya tersebut," ungkapnya.
Di akhir kegiatan, Swangro mengakhiri pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa kita harus keluar dari zona berpikir yang sempit, kita harus berpikir luas dalam memandang sesuatu. marga, asal, agama jangan menjadi tolak ukur dalam memilih pemimpin. "Integritas, loyalitas, profesionalitas, dan kerja keras itu tidak di ukur dari hal itu, poltik itu dinamis, tidak ada kepastian dalam hal itu. Namun jika tidak berpolitik kita juga tidak dapat membangun. Tolak money politik, agar kita tidak punya beban dalam membangun hal yang kita cintai Bersama," harapnya. (Azri)



.jpg)








